Website Screenshots

newsFlash

Profile Facebook Twitter My Space Friendfeed You Tube
Kompas Tempo Detiknews
Google Yahoo MSN
Blue Sky Simple News Simple News R.1 Simple News R.2 Simple News R.3 Simple News R.4

Saturday, October 17, 2009 | 8:05 PM | 0 Comments

Kapan Sebuah Pintu Bukan Sebuah Pintu?

Kapan Sebuah Pintu Bukan Sebuah Pintu?

Tidak setiap hari Anda sempat meluangkan waktu berjalan-jalan santai di lingkungan sekitar: berjalan-jalan tanpa maksud dan tujuan, merentankan kaki, membiarkan pikiran mengembara, dan berkenalan kembali dengan beberapa pemandangan indah. Di tengah perjalanan mungkin anda akan mampir ke kedai kopi, menjelajahi jalan-jalan di taman, tau menyempatkan diri melihat-lihat keadaan sekitar. Ada saatnya anda membiarkan kaki menentukan tujuan...

Bayangkan diri anda sedang berjalan-jalan menyusuri kota, hari itu sangat indah. Anda sedang berangan-angan. Anda berbelok ke aah jalan yang tidak pernah anda lewati sebelumnya. Selagi berjalan, anda melewati rumah yang indah di seberang jalan. Anda berhenti sejenak untuk mengagumi rumah yang indah itu dan memperhatikan pintunya terbuka setengah. Mengapa pintu itu sedikit teruka?

1.rumah itu dirampok
2.pemiliknya lupa mengunci
3.pemiliknya berada di dalam, sedang menyapu pintu masuk.




Kapan Sebuah Pintu Bukan Sebuah Pintu?

Pintu memiliki dua hal penting: menjadi jalan masuk atau justru menjadi penghalang. Pintu depan rumah mewakili pertahanan awal. Pintu depan rumah berdiri di antara penghuni dan ketidakpastian dunia luar. Dengan membayangkannya sebagai pintu terbuka yang seharusnya tertutup, anda sedang memimpikan skenario ”mudah diserang” dan disingkap. Dalam alam bawah sadar, alasan mengapa membayangkan pintu terbuka berhubungan dengan cara membuka diri dan menyingkapkan kelemahan anda terhadap orang lain.

1.rumah itu dirampokà anda cepat mengambil anggapan terburuk dari setiap situasi. Sifat ini terlihat sebagai bukti yang jelas ketika ternyata benar-benar terjadi sesuatu. Anda tidak pernah bingung dalam menghadapi saat-saat genting, tapi hanya terlalu sibuk karena panik. Jadi lain kali jika bencana datang, miliki pikiran jernih. Ingatah selalu untuk terlebih dahulu mengambil nafas panjang dan menghitung sampai sepuluh. Baru anda boleh pingsan.
2.pemiliknya lupa menguncià anda bukan tipe orang yang terhanyut dalam situasi genting sebaliknya, anda sangat santai, bahkan tidak memperhatikan situasi genting muncul. Kesalahan yang anda buat lebih banyak disebabkan kelalaian, bukannya maksud yang buruk. Tapi hasil akhirnya bagi anda (dan orang lain) adalah sama.
3.pemiliknya berada di dalam, sedang menyapu pintu masukà anda mungkin nampak seperti orang yang santai. Tapi tidak pernah membiarkan diri lengah. Memiliki kesiagaan konstan seperti itulah yang membuat diri anda menjadi dewasa seperti sekarang. Tentu saja anda masih memiliki kelemahan yang bersifat manusiawi, hanya saja jangan memperlihatkannya ke seluruh dunia.




0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by Herdiansyah Hamzah | Published by Jurnalborneo.com
Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.