Website Screenshots

newsFlash

Profile Facebook Twitter My Space Friendfeed You Tube
Kompas Tempo Detiknews
Google Yahoo MSN
Blue Sky Simple News Simple News R.1 Simple News R.2 Simple News R.3 Simple News R.4

My Blog Feeds »

Translater

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

Exchange Link

Tukeran link


Silahkan bagi yang berminat bertukar link salin kode berikut ke blog sobat sekalian, confirm aj langsung di shuotmix
Showing posts with label Ideology. Show all posts
Showing posts with label Ideology. Show all posts

Friday, May 29, 2009 | 1:34 PM | 0 Comments

Phantom at the Opera of Identity

Phantom at the Opera of Identity
Crodan si buruk rupa adalah seniman hebat, namun kehebatannya selelu tenggelam dibanding gemerlap realita yang sering orang katakan lebih aneh dari kisah-kisah novel. Ingatan tersebut tiba-tiba saja kembali, berusaha menyatu dengan romantisme kelam sebuah identitas. Malam itu udara jelas tak begitu dingin, di ujung meja pertemuan sederhana nan disusun rapi memanjang usai makan malam, telah tersedia bingkai dari calon pemikiran kami. Menarik sekali, di tengah berbagai berita yang secara apriori telah membelenggu kami dalam keadaan berbeda dan tak cukup pula memberi inspirasi, perbincangan multikultur merupakan semangat bersama untuk melawan realita perbedaan dari dunia yang nyaris tak tersentuh, yaitu identitas. Kesaksian rekan-rekan dari berbagai organisasi pergerakan kemahasiswaan meski terkesan berseberangan, justru sangat membantu perasaan terasing dari yang lain untuk lamat-lamat mulai pudar. Ramuan pengalaman juga intuisi untuk menegasikan perbedaan, menjadi ramuan menarik demi menjawab inti pertanyaan kita tentang hubungan-hubungan yang terkendala dalam jurang kelam identitas. Selayaknya seorang Crodan yang selalu bersembunyi di balik topeng kemalangan untuk mengungkapkan cinta.    
Terdapatnya ekspansi identitas dalam ide, memang merupakan proses alamiah dari masyarakat yang sedang berkembang menuju masyarakat dengan tingkat toleransi tinggi dan terang tanpa kekuatan pengendali sekalipun. Namun kiranya lebih sering dalam proses tersebut antara satu identitas dengan identitas yang lain saling berkontradiksi, entah demi sebuah entitas ataupun sekedar simbolisasi saja. Lalu berdamai dengan sejarah?? Tentu tidak mudah, wajah si Crodan sudah rusak dan beruntungnya ia telah jatuh cinta sebelum hal tersebut menimpa. Sulit memang berada di bawah kedigdayaan dunia panggung nan penuh sandiwara terlebih dengan penampilan demikian. Begitulah kita yang sedang duduk bersama di keheningan Kaliurang, merenungi perbedaan tidak juga demikian mudah. Suara kami jelas tak menarik bagi mereka yang terus menerus rindukan kejayaan, seolah sebuah peristiwa di alam mimpi telah berjanji pada mereka dan membisikkan perseteruan. Beginilah kisah-kisah mewarnai dunia akhir-akhir ini, tiap kejayaan dalam pemahaman kita adalah dengan berdiri di atas reruntuhan peradaban lain. Untk itu seorang penguasa akan selalu berkata “ini tentang keselamatan ummat bung, mereka tidak akan sedikitpun peduli pada kita!!”    
Lebih buruk lagi, identitas seringkali dilengkapi dengan kemampuan dan kemauan untuk mengatur distribusi social sesuai kebutuhan. Hal ini dapat kita temukan dalam praktek pergerakan mahasiswa tatkala mereka sedang membutuhkan musuh bersama dan wacana bersama. Mereka tentu tidak sedang bicara bagaimana kita bersatu, tapi bagaimana kita menentukan. Maka tidak mengherankan apabila setiap moment bagi mereka adalah komoditas. Disamping hal tersebut, dapat dikatakan pula dari beberapa contoh bahwa organisasi-organisasi yang bernaung dalam kubah Fisipol seringkali tanpa sadar telah menjalankan praktek-praktek untuk mengalienasi diri sendiri, dan selanjutnya diekslusivekan lingkungan. Tentu hal ini dapat dilihat pula tatkala pola tindakan para anggota yang selanjutnya dikenalkan Bourdieu dengan istilah habitus begitu mempengaruhi mereka untuk bertindak secara terstruktur, dimana hal ini juga mengenai persoalan eksistensi. Missal seringkali para anggota menggunakan suatu ungkapan untuk menyapa atau berbincang dengan anggota lainnya.
Akhirnya si buruk rupa Crodan pun paham betapa tidak berarti dirinya tanpa topeng, semakin orang tidak paham dirinya, maka semakin terkenallah Crodan. Crodan selayaknya identitas di dunia profan nan penuh tipu daya, dan begitulah yang selalu berulang. Ketika identitas semakin sempit dipahami, ia akan menjelma sebagai kekuatan luar biasa untuk melawan (bersifat mengikat) dan bukan sekali-kali mengenai bagaimana berserikat. Sehingga tidaklah mengherankan sekaligus kanyataan unik jika kini masyarakat pun lebih memilih untuk mengabaikan sebuah pergerakan berskala kecil, menghadang jika berskala sedang, dan turut mengikuti ketika pergerakan menjadi satuan aksi massa skala besar.    
Selengkapnya...

Tuesday, May 26, 2009 | 8:21 PM | 0 Comments

Fashion Artikulasi Identitas

Fashion Artikulasi Identitas

(review artikel Ben Anderson Cacah Jiwa, Peta, Museum)


Perbincangan Ben Anderson mengenai Cacah jiwa, peta, dan museum sangat unik karena justru bermula dari sebuah derivasi yang ia kemukakan sendiri dalam edisi pertama Imagined Communities yakni tatkala nasionalisme justru terlepas dari silsilah darimana model nasionalisme tersebut diadopsi. Hanya saja Ben Anderson pun tak cukup menjelaskan realitas nasionalisme setiap Negara koloni, apakah diambil melalui eksplorasi intelektual atas fakta-fakta yang ada ataupun hukum pemikiran apa pun. Namun di sisi lain fakta tak kalah menark berhasil dilacak olehnya, sebab Negara-negara colonial secara tipikal punya watak anti-nasionalis, dan biasa mengungkapkannya dengan kekerasan[1]. Berikut meruapakan hasil kajian singkat tentang karya beliau yang telah banyak menawarkan manfaat bagi studi-studi politik identitas.

[1]

...

Cacah Jiwa

Cacah jiwa divisualisasika sebagai subordinasi dari bayangan pemerintah tentang mereka, hal tersebut dapat dilacak ketika pemerintahan era Hindia-Belanda membagi masyarakat dalam beberapa kategori, yaitu penduduk Asli (the indigenenous people), Bangsa Eropa (europeans), etnis Tionghoa (Chinese), dan bangsa lainnya (Other Foreign Orientals). Termasuk dalam kategori bangsa lainnya ini adalah bangsa Arab, India, dan Melayu (Purcell, 1952).[1] Tiap golongan diatur dengan undang-undang dan hak yang berbeda. Sekolah juga terbagi untuk orang Eropa (ELS), orang Cina (HCS), dan Inlander (HIS). Jelas bukan tanpa alasan jika etnis Tionghoa dikategorikan tersendiri, mengingat peran mereka yang begitu signifikan dalam kegiatan perdagangan. Namun keadaan ini mengalami perubahan drastis, justru ketika jaringan ekonomi yang mereka rintis semakin kuat dan dominan karena tentu  pemerintahan Hindia-Belanda segera melihatnya sebagai sebuah ancaman. Potret buram orang asing di tanah sendiri tetap menjadi mimpi buruk yang tak kunjung berakhir di tengah gegap gempitanya kemerdekaan manakala persepsi mendua pemerintah colonial terus dipraktekan pemerintahan republic. Lagipula jika dicermati klasifikasi warga Negara seperti ini merupakan bagian dari upaya dekonstruksi identitas di tanah koloni dengan tujuan menumbuhkan dalam benak antara golongan-golongan tersebut sebagai sebuah satuan masyarakat yang berbeda. Terbukti sangat mudah menemukan berbagai sentiment “kita” dan “mereka” hingga kini. Maka tidaklah mengherankan tatkala pemerintahan pasca-kemerdekaan masih mewarisi peraturan diskriminatif, meski kini inlander menjadi focus perhatian pemerintah. Maka pengkategorisasian dalam cacah jiwa membentuk kontruksi rasial semakin ekslusive, dalam artian bahwa jati diri ini dijejalkan menjadi pemahaman masyarakat yang terfragmentasi. Belum lagi dalam proses ketegorisasi jati diri pihak yang kuat secara politis senantiasa berada di urutan pertama, sehingga seolah memiliki kemampuan untuk mengartikulasikan wacana sesuai dengan kemampuan dominasi mereka. Disamping itu pemisahan cluster demikian hanya berusaha mencoba melestarikan kategorisasi rasial yang masih besar, dan sensus bertugas untuk mengandaikan satu jiwa mencakup satu identitas.

 

Peta

Peta merupakan lembaga kekuasaan lain yang diciptakan sebagai penanda corak kekuasaan sebuah wilayah. Terkait dengan cacah jiwa, seringkali penggunaan peta dalam cacah jiwa merundukkan tatapan hanya ke batas-batas wilayah colonial/ lebih merujuk ke tempat-tempat ketimbang mengacu apapun yang bisa dikenali sebagai gugus kesukuan dengan bahasa khas tersendiri (penetrasi administrasi imperial), hal ini tentu dilakukan bukan tanpa maksud. Jusru Cacah jiwa nantinya akan mengisi topografi formal peta secara politis, sehingga akan memperlihatkan perimbangan kekuatan di dalamnya. Selain itu tak kalah penting penggunaan teknologi mesin cetak melalui berbagai skema ekspose dan ekploitasi acapkali membawa jaman yang telah masuk ke alam kemerdekaan untuk turut mengomentari kedaulatan sebuah wilayah, melalui penentuan batas dalam peta yang tidak kasat mata. Peta juga menunjukkan pembingkaian di dalam mana kiprak-kiprah administrative maupun militer akan berlaku. Maka tidaklah mengherankan jikalau Peta adalah “modal bagi” dan bukan mengenai “modal dari”, dalam artian bahwa peta selayaknya sebuah komoditas, tinggal bagaimana komoditas itu diinterpretasikan oleh penguasa.

 

Museum

Masa colonial telah begitu jelas mengambarkan maksud Ben Anderson melalui pemahamannya bahwa museum acapkali direposisikan sebagai piranti keagungan bagi Negara colonial secular. Sehingga memiliki kemampuan untuk merekonstruksi wajah colonial tampil sebagai penjaga tradisi atau dengan lain perkataan, museum merupakan komoditas yang marketable untuk memperlihatkan keagungan budaya colonial. Tidak sekedar berhenti pada penjelasan tersebut, akan tetapi bagaimana ia juga berusaha menjelaskan bahwa museum merupakan interpretasi budaya massal (masyarakat) yang menandai bahwa seni arsitektur atau apa pun dalam bagian bangunan museum tidak sekalipun diperkenankan bekerja dan berproses sendiri atau dengan lain perkataan museum sejak awal terikat secara struktural dan tumbuh dalam dunia yang berusaha direkonstruksi oleh colonial secara budaya. Sehingga museum sukses menunjukkan replica historia, yang dimanfatkan demi kepentingan colonial.

[1] Shirley Lie, Dilema Etnis Tionghoa di Indonesia, (Majalah 2 mingguan BASIS, Mei-Juni 2006), hal:13.

Selengkapnya...

 

Popular Posts

BeatBlack BOX

Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by Herdiansyah Hamzah | Published by Jurnalborneo.com
Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.