SOURCE
Selengkapnya...

Directed By: Wolfgang Becker
Bagaimana kawan sekalian apa sudah nonton Avatar yang menghebohkan dengan special effect-nya (sangat luar biasa). Bisa kebayang ga ada alam yang benar-benar fantastis semacam itu?? Well kenyataannya memerlukan biaya yang sangat fantastis pula untuk menghadirkannya. Namun ada satu film dengan ide yang hampir serupa yaitu menghadirkan alam lain, hanya saja ia sama sekali tak memerlukan spesial efek canggih. Tanpa kehidupan makhluk lain, tanpa sebuah planet asing, negara Jerman Timur yang sudah punah tahun 1989 diciptakan kembali oleh seorang anak untuk ibunya yang sedang sakit, dalam ukuran skala kecil.
Williy Wonka (Gene Wilder) telah lama menutup rapat rahasia pabrik coklatnya, tidak seorang pun terlihat pernah keluar ataupun masuk pabrik, tidak juga seorang pekerja. Namun anehnya produksi coklat dalam jumlah luar biasa terus-menerus dipasarkan ke seluruh dunia. Hal itulah yang terus menjadi rahasia bagi penggemar coklat seluruh dunia. Hingga suatu hari Willy Wonka membuat pengumuman akan mengizinkan bagi 5 anak-anak yang berhasil menemukan tiket emas dalam bungkus coklatnya untuk mengunjungi pabrik dan membawa mereka berkeliling, tentu tak ketinggalan memperlihatkan seluruh rahasia pabrik. Kontan saja seluruh dunia dalam sekejap menjadi gila mendengar berita tersebut, mereka begitu antusias hingga seringkali perbuatan-perbuatan konyol pun dilakukan.Image via Wikipedia
Kecintaan Salvatore Di Vita pada film begitu mempengaruhi hidupnya, hingga kini ia telah menjadi seorang sutradara ternama Italia. Berita tentang meninggalnya Alfredo seorang teman lama yang banyak berjasa memperkenalkan Toto (Salvatore kecil) pada berbagai film, membuat Salvatore harus kembali ke kampung halaman dan mengurai kisah masa lalu di kota kecil Giancaldo, Sisilia pada tahun 1950an.
Thomas (David Hemmings) adalah seorang fotografer yang bekerja untuk sebuah media masa bergerak di bidang fashion. Namun suatu hari kecintaannya akan dunia fotografi, membuatnya menjadi saksi mata sebuah pembunuhan. Kejadian tersebut berlangsung kala Thomas sedang mengambil gambar di sebuah taman, Thomas tanpa sengaja mengambil gambar sepasang kekasih yang sedang bermesraan. Akhirnya sang wanita (Vanessa Redgrave) menyadari bahwa seseorang sedang mengintai mereka berdua selagi bermesraan. Kontan sang wanita merasa dirugikan dengan kejadian tersebut dan berusaha mendatangi Thomas dengan tujuan meminta roll film hasil foto Thomas sewaktu di taman tempo hari. Beruntung Thomas tak menolak untuk memberikannya kepada wanita itu. Lagipula Thomas ternyata sudah menduplikat hasil, karena merasa sangat penasaran tentang mengapa wanita itu sangat menginginkan roll film tersebut, ya mungkin saja wanita itu terusik ketenangannya karena apa yang terjadi di taman bukan untuk konsumsi orang lain. Tapi menurut Thomas hal itu bukanah alasan yang benar, ia juga tak berminat untuk publikasi. Waktu berselang pada akhirnya ia melihat hasil jepretan kameranya sendiri dan memperhatikan dengan seksama, tadi ia megira bahwa kamera adalah mata kedua baginya. Apa yang ia lihat dilihat pula oleh kamera, namun hal tak terduga telah terjadi dalam gambar di taman kala itu. Sebuah pembunuhan (jika dapat dikatakan demikian) berhasil ditangkap kamera kesayangan. Kontan hal ini membuat Thomas merasa semakin penasaran untuk terus melakukan penyelidikan. Segala upaya untuk mendekati sang pelaku semakin sulit, ia tak memiliki seorang saksi. Akhir kisah Blowup arahan sutradara pemenang best director Academy Award Michelangelo Antonioni terus menyuguhkan penasaran tanpa henti dan patut disimak.
Detektif Somerset (diperankan oleh Morgan Freeman) hanya memiliki waktu satu minggu menjelang masa pensiunnya. Ia bekerja di bagian kepolisisan pada satu wilayah di kota New York sebagai detektif. Posisi detektif Somerset akan segera digantikan oleh seorang detektif yang lebih muda, yaitu detektif Mills (diperankan oleh Brad Pitt). Agar dapat lebih menyesuaikan diri, detektif Mills terlebih dahulu dimasukkan ke ruang lingkup kerja detektif Somerset, satu minggu menjelang Somerset dibebas tugaskan.
Film City of God merupakan film yang diinspirasikan dari kisah nyata yang menceritakan kriminalitas dan pembebasan. Film ini pun telah memenangkan berbagai penghargaan bergengsi karena jalan ceritamya yang mengesankan.The Untouchable adalah sebuah organisasi kepolisian yang dibentuk oleh Eliot Ness (Kevin Costner) seorang polisi yang bertugas untuk departemen keuangan bersama Jim Malone (Sean Connery), sang akuntan Oscar Wallace (Charles Martin Smith), dan polisi muda George Stone (Andy Garcia) dengan tujuan utama menyeret ketua gangster Al Capone (Robert De Niro) sebagai tersangka penggelapan pajak semenjak tahun 1926. Hal ini berawal dari berulangnya sebuah kegagalan Ness untuk meringkus sekaligus mengumpulkan barang bukti untuk memberatkan tersangka, karena Chicago kala itu adalah sebuah kota diujung penaklukan kelompok mafia pimpinan Al Capone. Hampir seluruh peredaran minuman keras dan obat bius dimonopoli olehnya, bahkan suatu ketika digambarkan dalam film dengan sebuah scene restoran yang menolak untuk menjual minuman keras milik Al Capone akhirnya diledakkan saat itu juga. Negara benar-benar tidak bisa memprediksi beragam manuver licik para mafia dan tak berdaya. Pembunuhan seringkali terjadi di jalanan kota tanpa bisa menemukan satu tersangka pun. Ironis memang tatkala UU Chicago melalui peraturan Volstead berupaya mengendalikan justru membawanya menjadi kota perang, geng-geng saling berkompetisi untuk bisa mengendalikan jutaan dollar. Di tengah krisis tersebut Ness tetap memiliki optimisme, meski motifnya dalam film sendiri tidak diceritakan secara detail, ia memang seolah hadir untuk menghentikan Al Capone. Eliot Ness sang petugas departemen keuangan itu memang telah berhasil membuat Al benar-benar geram, nyaris saja sang pembawa buku yang tertangkap kepolisian dari sebuah skenario penggrebekan Ness menyeretnya ke hadapan meja hijau. Otak liciknya kali itu sungguh membuat Capone orang paling beruntung karena sang pembawa buku telah berhasil diringkus sebelum bersaksi. Hal itu pula yang menjadi alasan ia enggan datang tanpa ada saksi. Baik Ness maupun Al Capone sendiri kali ini sama-sama tak ingin rencananya kembali gagal. Ness bersama ”the Untouchable”, yang saat itu tinggal beranggotakan 3 orang sebab Oscar sang akuntan terbunuh bersama sang pembawa buku saat menuju ke pengadilan, kembali mengumpulkan bukti meski pada saat itu Ness pribadi sudah hampir menyerah. Sementara Al Capone rupanya memiliki prinsip bahwa pertahanan terbaik adalah dengan cara menyerang dan ia benar-benar melakukan tugas seorang mafia, bermula dari melenyapkan barang bukti lalu beranjak kepada ”pembersihan” orang-orang dekat Ness.
Film ini benar-benar menyuguhkan ketegangan dan ledakan emosi meski tanpa terlibat dalam penggambaran situasi perang, film ini tetap memiliki sisi tersebut meski melalui pakaian rapi dari para aktor. Tak satu orang pun menyangkal bahwa pasti terdapat kekecewaan andaikan tokoh ”baik” terus-menerus menjadi korban kejahatan, pertama Oscar lalu Jim selanjutnya anda tidak akan bisa menduga. Terlebih saat Jim Malone diringkus ia sedang menunggu kedatagan Eliot Ness sebab Jim sudah menemukan siapa pembawa buku berikutnya.
Satu petunjuk yang bisa penulis sampaikan adalah seharusnya Al Capone berpikir untuk berbisnis di Indonesia, terutama karena kelonggaran untuk orang-orang kaya sepertinya. Meski pendapat berkurang tapi ia akan menjadi seorang pria dengan nama lebih besar.
Moment penting:
Saat seorang ibu datang ke kantor Ness untuk berterimakasih meski kasus ini baru saja mulai, ibu tersebut adalah orang tua dari seorang anak korban ledakan yang diawal cerita digambarkan sedang membeli titipan sang ibu.
”Kau tahu, hal ini karena ku tahu kau juga mempunyai anak,
Bahwa mereka menyebabkan kita masuk dalam tragedi,
Dan aku tahu kau akan menghentikan mereka, dan sekarang kau melakukannya”.
Jerman. Maka tak ada yang dapat Szpilman lakukan selain pulang ke rumah berkumpul dengan keluarga dan mendengarkan radio luar yang kebetulan sedang memberitakan pernyataan perang Prancis kepada Jerman. Perasaan optimis sempat singgah sebentar bahwa perang akan segera berakhir dengan kekalahan pasukan Hitler. Namun sayang kehidupan justru terus terjun ke dalam jurang terdalam kebiadaban terutama bagi mereka kaum Yahudi, mulai dari kebijakan membatasi uang dalam keluarga hingga kewajiban mereka untuk menggunakan tanda bintang David pada lengan mereka untuk membedakan mereka Yahudi atau bukan. Mereka pun dipaksa untuk hidup di gang-gang khusus (Ghetto), semua perlakuan ini setidaknya memiliki maksud pembasmian Yahudi secara perlahan. Nyawa mereka seolah tak berharga, jika pasukan Jerman sedang tidak memiliki suasana hati bagus, mereka sah-sah saja melampiaskannya dengan membunuh Yahudi. Begituah kesan cerita yang ingin ditampilkan, mengenai benar atau tidaknya sejarah tersebut masih memiliki banyak perdebatan. Peristiwa yang dikenal dunia sebagai Holocaust merupakan tema utama film ini, sedangkan Szpilman adalah sebuah gambaran bagi kesulitan hidup seorang Yahudi yang menghadapi kematiannya berkali-kali.
Taxi Driver
Thank God for the rain which has helped wash away the garbage and trash off the sidewalks
Film arahan sutradara Martin Scorsese ini berusaha menyampaikan praktek-praktek keterasingan dalam masyarakat urban, sebuah praktek sosial yang begitu dekat dengan kehidupan nyata. Mungkin banyak orang kurang menyadari, tapi dari cara berperilaku dan bergaul mereka ketika memilih teman atau rekan dengan kriteria tertentu misalkan pekerjaan yang sama. Hanya semakin memperjelas praktek keterasingan, meski hal tersebut memiliki kesan alami kecuali bagi seorang wanita penghibur dengan ukuran materiilnya sendiri. Maka film Taxi Driver sendiri hadir sebagai kritik sosial melalui eksplorasi kejiwaan seorang veteran bernama Travis Bickle yang kecewa dengan kelakuan orang-orang disekelilingnya, hingga nanti berujung pada tindakan anti-hero.