Website Screenshots

newsFlash

Profile Facebook Twitter My Space Friendfeed You Tube
Kompas Tempo Detiknews
Google Yahoo MSN
Blue Sky Simple News Simple News R.1 Simple News R.2 Simple News R.3 Simple News R.4

Saturday, December 5, 2009 | 10:01 PM | 3 Comments

Balibo Five (Confrontation??)

Seringkali film tidak hanya sekedar memainkan peran protagonist dan antagonis yang nantinya akan diolah untuk menjadi klimaks yang baik, namun seringkali juga sebuah film memiliki tujuan sekaligus nilai yang ia berusaha sampaikan. Bila kita cermati mereka akan menampilkan sebuah skema unik dan berusaha agar mudah dipahami oleh penonton, meski juga ada sebagian film yang membiarkan penonton larut dalam berbagai pertanyaan hingga akhirnya mereka akan berkata “o begitu,,”. Kalau sudah demikian maka film telah melaksanakan tugasnya dengan baik, sebagai penampil gagasan atau sudut pandang. Hal itu pula lah yang rupanya menjadi dasar Balibo Five diproduksi. Film pertama yang pengambilan gambarnya langsung Di Timor Leste. Dikisahkan melalui sudut pandang seorang wartawan senior Roger East yang diperlihatkan sebagai seorang tanpa mengenal rasa takut dan bekerja untuk “PR” sebuah media berita dari Darwin. Datang ke Timor Leste untuk memenuhi panggilan Jose Ramos Horta sebagai pemimpin Revolutionary Front For Independent East Timor untuk menempati pos jabatan sekertaris muda urusan luar negeri. Tawaran ini awalnya ia tolak, hanya saja ia rubah karena Horta kemudian memperlihatkan foto ke lima rekannya yang hilang di kota perbatasan Balibo. Pada titik ini film lalu beralih cerita saat Greg Shackleton, Gary Cunningham, Malcolm Rennie, Brian Peters dan Tony Stewart, semua di bawah 30, mengucapkan selamat tinggal kepada orang-orang tercinta siap untuk melaksanakan tugas peliputan mereka di daerah perbatasan Indonesia- Timor Leste yang sedang dalam kondisi konflik. Namun nasib sial justru menghampiri kelima reporter ini, mereka terisolasi dari dunia luar hingga suatu saat kelimanya dinyatakan tewas saat mereka mencoba menyerah kepada pasukan Indonesia. Versi film ini dengan jelas menyatakan bahwa kelima reporter asal Australia dieksekusi dengan sangat kejam oleh pasukan Indonesia yang berusaha melenyapkan kelima orang itu beserta semua hasil peliputannya, hal ini dimaksudkan agar pemerintah Australia dapat mengambil sebuah tindakan atas insiden di perbatasan tersebut. Maka tidaklah mengherankan jika film Balibo Five sendiri dilarang tayang di bioskop-bioskop Indonesia, dengan pertimbangan bahwa film ini akan berdampak pada hubungan ke dua Negara karena perbedaan persepsi penyebab kematian kelima reporter ini. Seperti kasus pada tanggal 29 mei 2007, Sutiyoso (gubernur Jakarta) yang kala itu datang sebagai pejabat Negara resmi atas undangan resmi, didatangi polisi New South Wales di kamar hotelnya untuk diminta menghadiri sidang terkait dengan kasus terbunuhnya lima wartawan asing di Balibo, Timor Timur pada tahun 1975. Atas insiden itu, Sutiyoso menuntut pemerintah Australia memberikan klarifikasi dan meminta maaf atas pelecehan yang dilakukan oleh kepolisian federal mereka, karena telah menerobos kamar hotel tempatnya menginap.
Film Balibo Five sendiri ditutup dengan sudut pandang Shackleton sebagai reporter yang tersisa sedang duduk di sebuah desa, dan bertanya apakah besok mereka masih akan tetap hidup, dan mengapa tidak seorang pun di Australia atau dimana pun berusaha membantu??

Reblog this post [with Zemanta]

3 komentar:

Johnson Manurung said...

film dan kehidupan dalam beberapa hal memiliki kesamaan dimana sebagaian besar sudah diatur oleh "sang sutradara".
.
Salam Sukses

Asep Canda Blog said...

info tentang film ya sob hehehheeh

Arfi said...

aku juga pernah lihat cuma cuplikannya doank... tapi menurutku itu bagus juga buat mengusut tuntas kasus beberapa tahun silam....

Post a Comment

 
Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by Herdiansyah Hamzah | Published by Jurnalborneo.com
Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.