Website Screenshots

newsFlash

Profile Facebook Twitter My Space Friendfeed You Tube
Kompas Tempo Detiknews
Google Yahoo MSN
Blue Sky Simple News Simple News R.1 Simple News R.2 Simple News R.3 Simple News R.4

Saturday, November 21, 2009 | 1:02 PM | 0 Comments

Perfume (The Story of a Murderer)


Film ini diangkat dari novel thriller best seller karya Patrick Suskind yang berjudul Das Parfum: Die Geschichte eines moerders. Seperti telah tersirat dalam judulnya Film ini meneritakan kisah seorang serial killer pada abad ke-18 di Prancis. Tidak seperti pembunuh berantai yang lain, pria bernama Jean Baptise Granouille (Ben Wishaw) ini memiliki indra penciuman yang sangat istimewa. Ia dapat mengidentifikasi berbagai aroma tanpa musti melihat. Ini semua ia dapatkan saat Jean Baptiste terlahir di tengah carut marut pasar dengan berbagai aroma yang menusuk hidung. Sang ibu sendiri sebenarnya ingin mencampakkan Jean Baptiste seketika ia lahir di atas bangkai dan tulang sisa dagangan, hanya saja ia kurang beruntung. Orang-orang keburu mengetahui dari suara bayi yang meronta di bawah meja dagangan. Karena hal itu pula sang ibu justru dijatuhi hukuman gantung. Jean Baptiste kemudian tumbuh dipanti asuhan tentu dengan perkembangan yang cukup berbeda dengan anak lain, ia begitu diam dan hanya terobsesi untuk terus mengenali segala aroma. Hingga berajak dewasa dan berpindah hak ke orang lain (Jean Baptiste termasuk dalam skema perbudakan yaitu ketika ada seorang membayar hak perwalian,otomatis ia menjadi milik si pembeli) membuat Jean mulai mengenali aroma parfum saat kunjungan ke kota. Hal ini terang membuatnya semakin terobsesi. Namun sebagaimana mausia biasa, Jean juga memiliki kelemahan. Ambisi yang terlalu besar membuat Jean seolah tak memiliki akal sehat, dan ambisi ini juga yang telah merubah Jean menjadi pembunuh berantai paling diburu Prancis. Pembunuhan pertama Jean Baptiste terjadi tanpa sengaja, kala itu Jean Baptiste sangat bergairah dan tertarik pada aroma tubuh seorang wanita cantik. Ia pun menguntit sang wanita ke manapun ia pergi, baunya pun mudah dikenali bagi Jean. Namun, sang wanita menyadari juga keberadaan Jean Baptiste. Percuma saja ia lari, Jean Baptiste selalu tahu kemana ia pergi, akhirnya ia pun memilih untuk berteriak. Jean Baptiste yang panik langsung berusaha sekuat tenaga membungkam mulut wanita tersebut. Tak disangka cengkeraman tangan Jean Baptiste justru membunuh sang gadis. Namun aroma yang terus diburunya dari tadi juga seketika menghilang, bersamaan dengan nyawa sang gadis. Dari peristiwa ini Jean Baptiste mulai mempelajari cara mengikat berbagai aroma untuk selamanya pada seorang pembuat parfum dan rela bekerja untuk majikan baru tersebut. Jean pun mulai tertarik untuk membuat masterpiece parfum sebanyak 12 botol kecil. Merasa tidak puas dengan segala ilmu ini, ia pun pergi dan memulai segala pembunuhan berantai dengan keji demi mendapat sari pati keharuman dari mayat wanita yang ia bunuh. Ini semua lagi-lagi untuk menciptakan masterpiece. Akhirnya 12 botol itupun terpenuhi, hanya saja ia tertangkap saat menghasilkan masterpiece yang selama ini ia cari dengan pembunuhan. Dan ia pun dijatuhi hukuman mati. Kisah ini tentu tidak begitu saja berakhir, sebagaimana sebuah novel laris ia memiliki ending yang tak terduga. Lalu pertanyaan kemudian terarah pada nasib Jean usai dibekuk aparat keamanan. Apakah ia berhasil bertahan hidup?

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by Herdiansyah Hamzah | Published by Jurnalborneo.com
Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.