Website Screenshots

newsFlash

Profile Facebook Twitter My Space Friendfeed You Tube
Kompas Tempo Detiknews
Google Yahoo MSN
Blue Sky Simple News Simple News R.1 Simple News R.2 Simple News R.3 Simple News R.4

Tuesday, September 8, 2009 | 8:42 PM | 0 Comments

Taxi Driver (1976)


Taxi Driver
Thank God for the rain which has helped wash away the garbage and trash off the sidewalks
Film arahan sutradara Martin Scorsese ini berusaha menyampaikan praktek-praktek keterasingan dalam masyarakat urban, sebuah praktek sosial yang begitu dekat dengan kehidupan nyata. Mungkin banyak orang kurang menyadari, tapi dari cara berperilaku dan bergaul mereka ketika memilih teman atau rekan dengan kriteria tertentu misalkan pekerjaan yang sama. Hanya semakin memperjelas praktek keterasingan, meski hal tersebut memiliki kesan alami kecuali bagi seorang wanita penghibur dengan ukuran materiilnya sendiri. Maka film Taxi Driver sendiri hadir sebagai kritik sosial melalui eksplorasi kejiwaan seorang veteran bernama Travis Bickle yang kecewa dengan kelakuan orang-orang disekelilingnya, hingga nanti berujung pada tindakan anti-hero.

Film dimulai dengan pemandangan kota Manhattan saat malam. Travis Bickle (Robert De niro) saat itu merasa dirinya mengalami kesulitan tidur, bahkan untuk sekedar memejamkan mata saja takkan membantunya segera terlelap, "I can't sleep nights". Insomnia pada akhirnya berhasil mendorong Travis untuk melamar kerja sebagai supir taksi shift malam. Sesuai dengan ucapannya saat melamar kerja bahwa ia akan bekerja kapanpun dan dimanapun, bahkan di jalan kota paling rawan hingga saat hari libur yahudi sekalipun. Ia bekerja hampir seharian dengan waktu tidur semakin sedikit tiap harinya. Namun dengan demikian ia jadi mengetahui bagaimana realitas kehidupan malam yang begitu dekat dengan dunia criminal, tak terkecuali dunia politik yang seringkali mencitrakan dirinya sebagai seorang Messiah. Dari pekerjaan inilah ia mengenal seorang wanita muda bernama iris (Jodie Foster), Iris merupakan korban dari praktek prostitusi di bawah umur dan membuat hati Travis tersentuh untuk menolong. Di sisi lain cerita, Travis sedang menaruh hati pada seorang wanita pirang simpatisan partai pimpinan Charles Palantine. Namun ternyata sang wanita menaruh perhatian pada Travis tak lebih dari sekedar bagian dari kampanye Palantine, lagipula Travis mau-mau saja diperintah ini itu demi kemenangan sang kandidat. Sampai suatu ketika Travis sangat kesal dengan tokoh dibalik pikiran konservatif pujaan hatinya, ia pun berniat melakukan percobaan pembunuhan pada Palantine, sekaligus pada para germo yang telah memperbudak wanita seperti Iris. Dua rencana besar pembunuhan yang benar-benar bertolak belakang. Sebagai seorang veteran perang Trav masih memiliki kemampuan menembak dengan sangat baik, hanya saja ia butuh senjata untuk mengeksekusi. “You talking to me?” sambil bercermin ia terus mengulang kata-katanya, ketika senjata-senjata tersebut telah didapatkan. Adegan ini adalah salah satu adegan terbaik dalam sejarah perfilman, sama saat Arnold mengatakan “I’ll be back”.
Konon film ini adalah inspirasi bagi John Hinckley saat melakukan percobaan pembunuhan presiden AS Ronald Reagan tahun 1981.

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by Herdiansyah Hamzah | Published by Jurnalborneo.com
Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.