Website Screenshots

newsFlash

Profile Facebook Twitter My Space Friendfeed You Tube
Kompas Tempo Detiknews
Google Yahoo MSN
Blue Sky Simple News Simple News R.1 Simple News R.2 Simple News R.3 Simple News R.4

Tuesday, August 4, 2009 | 6:47 AM | 0 Comments

The Oldman And The Sea


The Oldman and The Sea

Jika kau anakku, akan ku ajak kau lagi. Tapi kau anak ayah dan ibumu kau ada di kapal yang beruntung.
Diangkat dari kisah novel dengan judul yang sama karya penulis legendaris Ernest Hemingway. The Oldman and The Sea bercerita tentang seorang nelayan tua yang terus mengalami nasib sial, sebab sudah lebih dari 80 hari (dalam cerita ternyata 87 hari ) ia tak mendapatkan hasil tangkapan sama sekali. Entah karena ambisinya terlalu besar jauh melebihi kemampuan umurnya atau memang keberuntungannya sudah habis. Tapi ia jelas tak pernah percaya pada kemungkinan ke dua. Dahulu ia adalah seorang juara, pernah suatu waktu ia bertanding panco dengan seorang negro. Pertandingan berjalan begitu ketat hingga makan waktu seharian,dan ketika para nelayan hendak pergi melaut, saat hasil akhir pertandingan tampaknya akan seri, ia mengakhiri dengan kemenangan. Namun cerita tersebut telah lama berselang dan kini hanya ada nelayan tua bernama Santiago, yang ironisnya tak seorang pun mengenang kisah sang juara. Hanya Manolin, seorang anak kecil yang masih percaya pada Santiago. Manolin masih saja berbakti, memberi makan, mengangkat layar, juga mendengarkan kisah-kisah bisbol sang lelaki tua, meski ia tak diizinkan berlayar bersama Santiago dan diperintahkan pergi bersama nelayan yang lebih berhasil. Seolah ingin membalas segala kebaikan Manolin, Santiago berniat untuk berlayar jauh ke tengah teluk Meksiko pada keesokan hari dengan perahu kecinya.
Maka berangkatlah Santiago di hari ke-85 ke tengah teluk Meksiko seorang diri. Benar saja saat siang hari berikutnya kail yang telah ia atur berhasil menjerat seekor marlin raksasa. Belum sempat ia melihat sosok tangkapannya, Santiago sudah mengakui ketangguhan si marlin. Alih-alih menarik ikan tersebut, ia malah mendapati perahunya mengikuti kehendak sang ikan pergi kemana. Tanpa tersa dua hari telah lewat, namun keduanya masih berkeras untuk saling melawan. Dengan perasaan kagum, kasihan, juga haru, Santiago memberi penghargaan pada marlin. Ia percaya bahwa marlin yang sering dipanggilnya sebagai “saudara” tak layak untuk dimakan oleh siapapun. Di hari ketiga perjuangan, saat kelelahan sudah akan membuat Santiago menyerah hingga kerapkali ia mengigau, rupanya sang ikan pun juga diserang kelelahan luar biasa. Semakin dekat saja si marlin ke perahu, semakin kembali kesigapan Santiago. Yang akhirnya benar-benar kagum melihat betapa besar tangkapan kali ini, bahkan perahunya tak akan cukup menopang panjang ikan tersebut. Menggunakan sisa-sisa tenaga Santiago menikam ikan marlin dengan harpun, dan menandai akhir dari perlawanan sang ikan.
Dalam perjalanan pulang, dengan martil raksasa terikat di samping perahu Santiago tak menyadari bahwa ikan hiu sedang tertarik pada jejak darah yang ditinggalkan marlin. Pikirannya justru sedang sibuk memikirkan harga tinggi yang akan ia berikan saat melelang di pasar. Hiu mako pertama pun datang mencabik marlin, meski Santiago berhasil membunuh hiu tersebut, namun sungguh ironis bekas gigitan hiu pertama semakin membuat darah marlin mengalir deras dan mengundang ikan hiu lebih banyak lagi. Di malam hari hiu-hiu itu telah berhasil menghabiskan tangkapan terbesar Santiago, dan hanya menyisakan kepala hingga ekor tanpa sekelumit daging pun. Betapa sedih hati Santiago yang merasa telah mengorbankan sang marlin. Saat seharusnya ia bangga memamerkan tangkapan, ia justru melangkah gontai ke gubug sederhana tempatnya tinggal.
The Oldman and The Sea, cerita yang ditulisnya ketika tinggal di Kuba, menunjukkan kedekatannya dengan aliran eksistensialis yang sedang merebak di Eropa kala itu. Pernah meraih penghargaan Pulitzer tahun 1953 disusul dengan nobel di tahun 1954.
Directed by : John Sturges
Produced by : Leland Hayward
The Boy : Felipe Pazoz Jr
The Café Owner : Harry Bellaver
The Oldman : Spencer Tracy

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by Herdiansyah Hamzah | Published by Jurnalborneo.com
Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.