Website Screenshots

newsFlash

Profile Facebook Twitter My Space Friendfeed You Tube
Kompas Tempo Detiknews
Google Yahoo MSN
Blue Sky Simple News Simple News R.1 Simple News R.2 Simple News R.3 Simple News R.4

Tuesday, May 26, 2009 | 8:52 PM | 0 Comments

Jika Memang (sebuah cerpen anti perang)

sore telah menjalani bagian di suatu hari bulan maret, kala itu langit malam tampak cerah. rembulan bersinar tanpa keraguan. jogjakarta terbaring dalam kerumunan pendar cahaya seolah melupakan tempaan kerasnya hari belahan di dunia selatan. hembusan angin malam mengiringi langkah seorang hawa, wajahnya memang tidaklah secerah malam itu, namun melihat ia melangkah begitu mantap. Rose, ia biasa disapa memiliki kulit yang gelap dan rambut ikal terikat seperti layaknya penduduk Indonesia timur kebanyakan. Tak heran karena ia memang pengungsi ex tim-tim. aku sendiri tak pernah mengenalnya, aku sekedar mengetahui dari tiap percakapan ibuku . seringkali usai beli sesuatu di tempat Rose bekerja ibuku ngomel-ngomel, pernah ia berkata "ga kasian apa??" ketika harus melihat kenyataan bahwa Rose dipekerjakan selayak budak, "pak liat ni lho surat perjanjian kerja kok ditulis di bungkus rokok, padahal yo podo menungsane!!" selorohnya, menyambung. ya, aku sih ga ambil pusing, tapi orang secuek diriku pun tak tega juga. satu hal ini membuatku muak sekaligus geli melihat keterangan di balik bungkus rokok itu. So, tidak mengherankan kalau ibuku muring-muring. Aku tau tempat Rose bersekolah mendapat keringanan biaya dari pemerintah bahkan Rose bisa bersekolah dengan gratis, tapi biaya sebesar Rp. 400.000 begitu seenaknya saja muncul dalam rincian biaya beralas bungkus rokok tersebut. belum lagi tetek-bengek biaya lain yang harus ditanggung Rose untuk sekedar hidup di tanah asing baginya.
para tentara yang berkubu telah mengusir orang-orang dari singgasana nyaman mereka, dari tanah-tanah yang menghidupi. Ratusan keluarga tercerai-berai, termasuk Rose. Melihat ini pemimpin hanya akan berkata semakin dekat tujuan, semakin banyak rintangan. Tapi akankah mereka lihat di mata rakyat mereka yang hanya butuh ketenangan?? masih lekat dalam pikiran muda Rose, masa ketika kebahagiaan akan berakhir. Ia sadar hari-hari akan berubah meski perang telah usai. Kini semua telah nyata Rose harus melangkah sendiri tanpa jaminan sebagai warga negara. Bersama sebuah keluarga yang entah harus dikatakan sebagai apa, karena mula pertemuan mereka, keluarga ini sanggup untuk merawat seorang Rose. Sebenarnya mereka tidak sama sekali pernah melanggar ikrar itu. Namun konsekuensi harus dijalani Rose untuk membaur dalam keluarga barunya, dan mengganti semua dengan tenaga. Dipekerjakan tanpa upah membuat waktu semakin terasing baginya. Tiap impian telah dibuyarkan bersama letusan peluru membumbung tinggi ke angkasa, tak sudi kembali. Serasa tak mempan lagi semua tangis melukis kesedihan.
"Perjanjian antar pemimpin itu hanya sekedar penentuan batas wilayah" begitulah benak Rose beringsut di tengah kebisuan, ia tak pernah mengira jika kemerdekaan sebuah negara justru menjarah semua miliknya.
Belum lama berjalan Rose ditegur
"mau kemana, Rose?"
suatu kali ibuku menyapa.
"Ke toko, Bu" ia menyaut.
"dah makan?"
Beginilah kebiasaan ibu tatkala bertemu Rose, ia jelas tau betul kebiasaan tetangganya mengatur pola makan Rose. Suara ibuku sebenarnya sama sekali tidak keras namun jelas. Mungkin sejak tadi pagi, ia hanya makan roti membuat telinga Rose agak sensitif jika menyangkut soal perut.
"Nanti aja Bu, usai pulang" Rose menutupi pekatnya lapar.
"Tapi pulangmu kan masih ntar malem ya to?"
"wis jangan cari penyakit, Rose", Ibuku mulai prihatin dan logat jawa timur terasa jelas.
"Sik yo,,tunggu", perintah ibu yang segera bergegas masuk.
Rose mulai menerka apakah itu artinya saat makan tiba, senyum tergembang dan sedetik kemudian ia terdiam hanya diam.
"Nih, bawa aja", sembari meraih tangan Rose untuk mengambil.
Rose lega, tapi tak bisa menerima. Tempo hari ia telah putus asa bekerja di tempatnya sekarang. Ia yakin kematian akan lebih cepat menghampiri jika ia tetap di sini. Rose ingat kebiasaan banyak orang yang membantu jika ada mau. Ia menatap ibu, merasakan sesuatu menyedotnya. Ingat-ingat kebiasaan ibunya sendiri, ia merasakan bahagia yang hampir membuat Rose menangis.
Nasib sial sudah teramat sering berjalan sejajar dengan Rose, terlampau sering sikap mengintimidasi dirasakan. Dari sentimentil materiil sampai prinsipil. Hampir tak pernah ia merasakan agama sebagai Rahmatan Lil Alamin dari pemeluknya. Tak sepadan dengan lambang yang mewakili galaksi, samapai ibu memberikan gorengan padanya.
"toko kan jauh dari sini, kamu koko malah jalan kaki?"
"tidak apa Bu"
"Yo wis makanya bawa aja gorengan itu", tukas ibu tenang.
"ntar kalo dah sampai kan bisa dimakan disana", tambahnya.
"kalau begitu trimakasih, trimakasih sekali Bu", ia ucapkan semabari menunduk dan memegang plastik gorengan itu di dadanya.
"Mari, bu", segera ia beranjak, karena memang tak bisa berlama-lama.
"ya ati-ati"
Kini ia berjalan sendiri lagi dengan temaram listrik jalanan, merasa telah memiliki harapan yang lama mati, ia berjalan lebih cerah. Letih tak terasa menghalangi, gorengan yang ia genggam telah memberinya ingatan akan keluarga.
Namun sudahlah aku tak ingin episode kecil ini membuat kehendak bebas jadi terframing. yang menjadi jelas kini bahwa harapan dalan perang, seperti bintang yang hilang ketika terang. Kemenangan di atas reruntuhan kehilangan. Perbedaan dijadikan peran, bukankah agamamu tak lupa untuk mengajarkan persaudaraan?? Apakah perang mampu mengajarkan agama?? ataukah justru agama yang mengajarkan perang?? keduanya tampak samar bagiku. semua telah berputar, dan memang beginilah kehidupan yang tak berhenti untuk berputar seperti aliran darah.

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by Herdiansyah Hamzah | Published by Jurnalborneo.com
Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.